Daerah

Bukan Sekadar Tradisi Mandi, Marpangir Punya Filosofi Harmoni dengan Alam

6
×

Bukan Sekadar Tradisi Mandi, Marpangir Punya Filosofi Harmoni dengan Alam

Sebarkan artikel ini

TOBA || Trendingtopik,

Pantai Pakkodian, Kecamatan Tampahan, berkilau bukan hanya karena keindahan Danau Toba, melainkan juga karena kembalinya salah satu tradisi leluhur yang sarat makna. Pemerintah Kabupaten Toba melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sukses menggelar kegiatan Marpangir 2026 pada Sabtu (24/10/2026), sebuah upaya indah untuk melestarikan warisan budaya sekaligus membangkitkan potensi wisata budaya daerah.

Marpangir bukan sekadar mandi atau membersihkan tubuh. Di balik tradisi ini terdapat filosofi mendalam: menggunakan unte pangir atau jeruk purut sebagai ramuan utama, prosesi ini dimaknai sebagai pembersihan diri dari hal-hal yang tidak baik, serta pengingat akan keharmonisan yang harus terjaga antara manusia dan alam.

Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, menyambut antusias kembalinya tradisi ini. “Penggalian kembali tradisi leluhur bukan sekadar menghidupkan masa lalu, tetapi juga membuka masa depan yang lebih cerah. Warisan budaya seperti ini akan terus kita gali untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Dengan kekayaan alam dan sajian budaya yang menarik, kita berharap pariwisata berkembang, ekonomi masyarakat meningkat, dan kelestarian budaya tetap terjaga,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, menegaskan pentingnya menjaga kearifan lokal ini agar tidak hilang ditelan zaman. “Marpangir adalah bagian dari identitas kita. Kita ingin generasi muda tidak hanya mendengar namanya, tetapi memahami maknanya dan melestarikannya,” ungkapnya.

Kegiatan ini berlangsung meriah dan khidmat. Diiringi irama Gondang Sipitu Lili, digelar juga prosesi Marhata Adat, Tortor Pangurason, puncak prosesi Marpangir, hingga Tortor Rindu Matogu. Tidak hanya pertunjukan, diskusi adat atau Marnonang turut menjadi ruang berbagi pengetahuan agar makna tradisi ini semakin dipahami masyarakat luas.

Hadir dalam kegiatan ini Bupati Toba periode 2000–2005, Sahala Tampubolon, Ketua DPRD Kabupaten Toba, Franshendrik Tambunan, Kapolres Toba, AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, BPODT, jajaran pemda, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat luas.

Melalui Marpangir 2026, Kabupaten Toba menegaskan: budaya bukan sekadar kenangan, melainkan kekuatan yang menghubungkan manusia dengan akar, alam, dan masa depan yang sejahtera.(Chris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *