Daerah

Kasus ISPA Meningkat di Pematangsiantar, Sementara Influenza A Belum Ditemukan, RS Murni Teguh Horas Insani Imbau Waspadai Dehidrasi dan Komorbid

33
×

Kasus ISPA Meningkat di Pematangsiantar, Sementara Influenza A Belum Ditemukan, RS Murni Teguh Horas Insani Imbau Waspadai Dehidrasi dan Komorbid

Sebarkan artikel ini

PEMATANGSIANTAR || Trendingtopik, Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di Kota Pematangsiantar mengalami peningkatan dalam satu minggu terakhir. Tren kenaikan pasien ini dialami oleh berbagai kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, hingga lansia.

Kepala IGD Rumah Sakit Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar dr. Yabes Kafiar menyampaikan bahwa gejala umum yang dialami pasien meliputi demam tinggi, batuk, pilek, hingga nyeri pada sendi.

“Kalau kita sebut infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dalam satu minggu terakhir meningkat. Ada demam, batuk, pilek, gejalanya sakit-sakit, sendi-sendinya badan sakit-sakit,” ujar dokter RS Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar saat ditemui di lokasi, Rabu (07/10/26) sore.

Ia menjelaskan bahwa faktor pemicu ISPA sangat beragam, mulai dari infeksi virus hingga kondisi lingkungan sekitar seperti pencemaran udara.

“Faktornya banyak ya. Kalau ISPA itu banyak. Jadi bisa karena virus, bisa karena polusi udara terutama, kabut, asap, kemudian ada abu vulkanik. Itu terutama,” ungkapnya.

Sementara itu menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai maraknya isu penderita Influenza A yang kerap disamakan dengan COVID-19, pihak dokter menegaskan bahwa kedua penyakit tersebut merupakan hal yang berbeda.

“Beda. Salah satunya penyebabnya. Kalau COVID-19 penyebabnya SARS-CoV-2, kalau Influenza ya penyebabnya virus Influenza. Cuma gejalanya yang disamakan sama persebarannya. Pada COVID ringan kan demam, batuk, pilek juga,” jelasnya.

Untuk memastikan apakah seorang pasien terinfeksi virus Influenza A, B, atau varian lainnya, diperlukan pemeriksaan swab. Menurutnya, karakter virus influenza memang bersifat musiman dan dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting) jika daya tahan tubuh pasien baik.

“Semua faktor risiko yang imunnya turun, imunnya lemah. Terutama kita harus takut pada yang komorbid. Orang tua, lansia punya komorbid, risikonya kesannya cuma demam batuk pilek, tapi jatuhnya jadi kondisi berat, jadi sesak,” tambahnya.

Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat untuk membedakan antara tindakan pencegahan dan penanganan medis. Untuk pencegahan, penggunaan masker dan pemberian vaksinasi influenza menjadi langkah utama. Sementara untuk penanganan awal mandiri di rumah, pasien disarankan mengonsumsi obat sesuai gejala, beristirahat cukup, dan menjaga asupan cairan.

Namun, masyarakat diminta tidak menunda kunjungan ke fasilitas kesehatan jika menemukan tanda-tanda bahaya.

“Ketika 1-2 hari demamnya tak kunjung turun, kemudian cenderungnya tetap tinggi, terus penderita sudah mulai malas makan, malas minum, lebih baik ke faskes. Boleh puskesmas, klinik, ataupun rumah sakit,” tegas sang dokter.

Ia memberikan perhatian khusus bagi pasien anak-anak yang rentan mengalami komplikasi akibat demam tinggi.

“Kalau pada anak, risikonya kejang dengan demam yang tak kunjung turun, sarannya langsung ke faskes. Kita minimalisir faktor risiko yang akan terjadi. Risiko dehidrasi juga harus diwaspadai,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *